Cengkeh membumbung, industri rokok kalang kabut

JAKARTA. Harga cengkeh yang terus melambung membuat industri rokok meradang. Kini, mereka berharap pemerintah segera membuka keran impor cengkeh. Selain itu, mereka juga ingin ada lembaga khusus yang menangani pasokan cengkeh. Dengan begitu, harga cengkeh mereka harapkan bisa lebih stabil.

Heri Susianto, Ketua Harian Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi) bilang, sudah sepatutnya pemerintah turun tangan melihat harga bahan baku rokok seperti cengkeh yang terus melambung. “Tidak ada pilihan lain selain impor,” kata Heri kepada KONTAN, Sabtu (11/2).

Sebenarnya, produksi cengkeh tahun ini diperkirakan akan lebih baik dari tahun lalu. Namun, cengkeh hasil panen tersebut diprediksi tidak bisa langsung digunakan sebagai bahan baku rokok. Maklum, untuk mendapatkan kadar keasaman dan kadar air yang ideal sebagai bahan baku rokok kretek, cengkeh perlu didiamkan dan difermentasi selama 1 tahun hingga 2 tahun. Artinya, cengkeh yang dipanen tahun ini, baru bisa digunakan pada tahun 2013 mendatang.

Seperti telah ditulis KONTAN, harga cengkeh saat ini sudah melambung hingga mencapai Rp 150.000 per kilogram (kg). Padahal, menurut Heri, harga cengkeh yang ideal untuk industri rokok berkisar Rp 60.000-Rp 70.000 per kilogram (kg). Karena itulah Heri berharap ada sebuah lembaga khusus yang menaungi bidang cengkeh seperti halnya lembaga khusus yang menangani beras dan gula.

Dengan dibentuknya lembaga tersebut, industri rokok nasional akan mengetahui jumlah kebutuhan dan harga cengkeh yang ideal baik bagi industri maupun petani.

Memang, selama ini pemerintah membuka keran impor cengkeh. Namun, “Selama ini izin impor diberikan oleh masing-masing perusahaan, sehingga belum tentu perusahaan kecil mampu untuk melakukan impor,” kata Heri.

Bila kondisi ini didiamkan, jelas industri kecil akan kekurangan bahan baku. Jika sudah begini, industri kecil pun dikhawatirkan akan tumbang. Sepanjang 2008 sampai tahun ini saja, Formasi mencatat ada banyak pabrik rokok golongan dua dan tiga yang gulung tikar.

Sebagai gambaran, pada tahun 2008, jumlah anggota Formasi Malang saja ada 470 pabrik. Bandingkan dengan anggota Formasi Malang saat ini yang tinggal 122 pabrik.

Tak cuma industri kecil, pabrik rokok besar pun ikut terjepit gara-gara harga cengkeh yang melambung. Hasan Aony Aziz, Kepala Hubungan Masyarakat Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) melihat, melambungnya harga cengkeh belakangan ini akan berpengaruh pada kinerja perusahaan rokok kretek. “Ciri rokok kretek adalah cengkeh,” kata Hasan.

Menurutnya, kebutuhan cengkeh untuk rokok kretek filter sekitar 18% hingga 20% dari total bahan baku. Sementara kebutuhan cengkeh untuk rokok kretek non-filter membutuhkan mencapai 30%–40% dari total bahan baku. Di sisi lain, sekitar 97% industri rokok di dalam negeri menghasilkan rokok kretek, sedangkan sisanya memproduksi rokok putih filter yang tidak menggunakan cengkeh.

Menghadapi kenaikan harga cengkeh ini, produsen rokok pun tak bisa serta-merta menaikkan harga. Alasannya, harga rokok kretek telah naik tinggi karena cukai. Jika pelaku industri nekad menaikkan harga, mereka khawatir penjualan turun. Maka, satu-satunya jalan menyikapi kenaikan harga cengkeh ialah dengan mengurangi margin laba.

Menanggapi kondisi tersebut, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementrian Perdagangan (Kemandag), Deddy Saleh mengatakan, sampai pemerintah belum akan membuka keran impor cengkeh dalam waktu dekat. “Sampai saat ini belum ada pihak yang mengajukan untuk melakukan impor cengkeh, sehingga belum diproses,” kata Deddy.

http://industri.kontan.co.id/news/cengkeh-membumbung-industri-rokok-kalang-kabut/2012/02/13